Ternak Warga Mati Diduga Terjangkit PMK, Warga Dipungut Rp 100 Ribu Per Ekor untuk Obat

0
111

SIMALUNGUN | BERITA A1

Tiga ekor sapi (lembu, red) milik warga Nagori Pematang Gajing, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun ditemukan mati di dalam kandang beberapa hari terakhir. Diduga, lembu-lembu tersebut mati akibat Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang mulai menyerang ternak warga beberapa hari pekan terakhir.

Seperti lembu milik Supriadi warga Huta III, Nagori Pematang Gajing mengatakan lembu dewasa miliknya diketahui mati saat pagi hari. Diakuinya, lembu miliknya memang terserang sakit dimana dari mulut selalu mengeluarkan lendir. “Tadi pagi matinya, udah dikubur tadi pagi,” katanya saat ditemui di kediamannya.

Iklan
Iklan

Senada dengan Tumin, lembu berusia 2 bulan miliknya mati mendadak, hal ini diketahuinya saat ia pulang kerja siang hari. “Lembu anakkan ku itu gak ada sakit. Tapi induknya baru disuntik kemarin sama penyuluh hewan ternak, mungkin keracunan dari air susunya,” duga pria berusia 50-an itu.

Saat ditanya apakah dikenakan biaya saat melakukan penyuntikan hewan ternak itu? Pria bertubuh kecil ini mengakui bahwa dirinya harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 100 ribu untuk sekali suntik. “Seratus ribu per ekor. Mau tak mau ya dibayar lah,” katanya lagi.

Majid, Gamot (Kepala Dusun, red) Huta III mengatakan sudah ada 3 ekor ternak warga yang mati diduga sakit PMK. Untuk desa tersebut, rata-rata lembu warga sudah terjangkit penyakit tersebut. Ia berharap, agar ada penanganan serius dari Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui dinas terkait agar dapat mengatasi keresahan warga. “Kita harapkan kehadiran pemerintah khususnya Pemkab Simalungun. Jangan sampai ada pihak yang mengambil keuntungan atas musibah yang dialami peternak di desa kami,” katanya.

Dihubungi melalui selularnya, Kadis Ketahanan Pangan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Simalungun, Robert Pangaribuan mengatakan saat ini belum ada vaksin atau obat yang dikeluarkan Pemkab Simalungun maupun Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Utara. “Tidak ada biaya apapun. Tapi, bantuan obat-obatan belum ada, tetapi yang di lapangan itu sukarelawan. Jadi obat-obatan mereka beli sendiri. Mereka (sukarelawan, red) tidak digaji negara. Sampai sekarang belum ada obat dari pemerintah,” katanya.

Ia menambahkan, sebelumnya Pemprov Sumatera Utara hanya memberikan 6 botol antibiotik dan vitamin yang akan diberikan untuk ternak. “Cuma 6 botol, 1 botol itu untuk 100 ekor. Sementara ternak warga di Simalungun ada 174 ribu ekor,” katanya mengakhiri. (DN)